Konsultan Job Grading and Ranking Strategis

Konsultan Job Grading and Ranking Strategis

Mengatasi Ketidaktepatan Struktur yang Menghambat Keadilan dan Kinerja Organisasi

Job Grading and Ranking terbaik membantu perusahaan mencegah ketidaktepatan struktur jabatan, memastikan keadilan, efisiensi dan kinerja organisasi modern. Di tengah persaingan yang semakin ketat, struktur jabatan tidak lagi bisa disusun hanya berdasarkan kebiasaan, senioritas atau pertimbangan informal. Perusahaan membutuhkan kerangka evaluasi jabatan yang objektif, terukur dan konsisten agar setiap posisi memiliki nilai yang selaras dengan tanggung jawab, risiko dan kontribusinya terhadap bisnis.

Dalam konteks ini, Job Grading and Ranking menjadi fondasi strategis untuk membangun sistem struktur jabatan yang adil dan dapat dipertanggungjawabkan. KMMB HR hadir sebagai mitra strategis yang membantu perusahaan merancang, mengevaluasi dan menyelaraskan struktur jabatan dengan strategi bisnis, struktur biaya SDM serta dinamika kompetensi di era transformasi digital. Dengan pendekatan yang analitis dan berbasis data, Job Grading and Ranking tidak hanya menyusun level jabatan tetapi juga membentuk arsitektur organisasi yang lebih sehat dan berdaya saing tinggi.

Ingin menggunakan jasa konsultan untuk penyusunan Job Grading & Ranking?

Silahkan kontak ke nomor +62 811-3547-717 atau tekan tombol logo WhatsApps untuk mengajukan layanan konsultan.

Mengapa Job Grading and Ranking Menjadi Fondasi Struktur Organisasi Modern

Dalam lanskap bisnis yang bergerak cepat, perusahaan menghadapi tuntutan untuk menata ulang struktur jabatan secara lebih objektif dan terukur. Jabatan baru bermunculan, kompetensi berevolusi dan model bisnis bergeser namun struktur sering dibiarkan mengikuti pola lama. Tanpa sistem yang jelas, organisasi rentan pada ketimpangan internal, ketidakseimbangan beban kerja, konflik peran hingga ketidakselarasan antara nilai jabatan dan kompensasi.

Job Grading berfungsi sebagai proses evaluasi sistematis terhadap setiap jabatan berdasarkan tingkat tanggung jawab, kompleksitas tugas, dampak bisnis serta kompetensi yang diperlukan. Sementara itu, job ranking membantu menyusun urutan prioritas jabatan berdasarkan kontribusi dan bobot peran dalam value chain organisasi. Ketika keduanya digunakan secara integratif, perusahaan dapat memastikan bahwa setiap jabatan memiliki posisi dan nilai yang selaras dengan kebutuhan strategis dan struktur biaya SDM.

Peran Job Grading and Ranking dalam Penguatan Tata Kelola SDM

Job Grading and Ranking memegang peran sentral dalam penguatan tata kelola SDM (workforce governance). Setiap keputusan terkait promosi, penyesuaian gaji, penempatan jabatan hingga perencanaan suksesi idealnya bertumpu pada pemahaman yang jelas mengenai job value.

Melalui kerangka Job Grading and Ranking yang terstruktur, perusahaan dapat:

  • Menyusun internal equity yang terukur sehingga karyawan merasa diperlakukan adil.
  • Menyelaraskan job content dengan job title dan job value, menghindari jabatan “semu”.
  • Menjadi lebih objektif dalam mengelola salary structure dan penyesuaian kompensasi.
  • Menghubungkan struktur jabatan dengan strategic workforce planning, talent pipeline dan transformasi digital.

Dalam praktiknya, Job Grading and Ranking merupakan salah satu pilar penting yang menghubungkan HR, keuangan dan strategi organisasi dalam satu kerangka tata kelola yang lebih rapi dan transparan.

Mengapa Perusahaan Membutuhkan Sistem Job Grading and Ranking

Di banyak organisasi, struktur jabatan berkembang mengikuti kebutuhan jangka pendek. Jabatan baru muncul tanpa desain yang terencana, promosi terjadi tanpa acuan kompetensi yang jelas dan penyesuaian grade tidak selalu selaras dengan perubahan strategi maupun dinamika bisnis. Akibatnya, muncul berbagai ketidaktepatan struktural yang menghambat kinerja, memicu ketidakadilan dan menggerus engagement karyawan.

Dalam konteks tersebut, KMMB HR membantu perusahaan membangun sistem Job Grading and Ranking yang:

  • Objektif, berbasis kriteria yang terukur dan terdokumentasi.
  • Konsisten, sehingga dapat diulang, diaudit dan ditinjau berkala.
  • Terintegrasi dengan struktur kompensasi, career path dan perencanaan organisasi.
  • Relevan dengan regulasi, standar industri serta dinamika pasar tenaga kerja.

Dengan dukungan pendekatan profesional, Job Grading and Ranking berubah dari sekadar “proyek HR” menjadi instrumen strategis yang mempengaruhi efisiensi biaya SDM, keadilan struktural serta daya saing organisasi.

Tujuh Ketidaktepatan Struktur yang Menghambat Keadilan dan Kinerja Organisasi

Berikut adalah tujuh ketidaktepatan struktur yang paling sering ditemukan di perusahaan dan bagaimana Job Grading and Ranking menjadi solusi strategis untuk mengatasinya.

1. Kesenjangan Nilai Jabatan yang Tidak Selaras dengan Kompleksitas Tanggung Jawab

Ketidaktepatan pertama yang paling umum adalah perbedaan nilai jabatan yang tidak mencerminkan beban kerja aktual atau tingkat kontribusi terhadap organisasi. Beberapa jabatan memperoleh grade tinggi karena warisan historis, sementara jabatan yang kontribusinya krusial justru berada pada grade rendah karena belum pernah dievaluasi ulang.

Dampaknya:
  • Karyawan pada posisi strategis merasa kurang dihargai.
  • Struktur kompensasi menjadi tidak kompetitif dan tidak logis.
  • Internal equity terganggu, memicu rasa tidak adil.
  • Pengembangan karier tidak terarah karena nilai jabatan tidak jelas.
  • Potensi turnover meningkat pada jabatan kritikal.

Melalui Job Grading and Ranking, perusahaan dapat melakukan kalibrasi ulang nilai jabatan secara objektif dengan mempertimbangkan:

  • Kompleksitas tugas.
  • Tingkat pengambilan keputusan.
  • Risiko pekerjaan.
  • Dampak finansial dan strategis.
  • Kapabilitas dan kompetensi yang dibutuhkan.

Proses ini memastikan setiap jabatan memiliki grading yang adil dan transparan, sekaligus menjadi fondasi compensation management yang lebih akurat.

Regulasi relevan:

2. Ketidakseimbangan Struktur Jabatan Akibat Promosi Berbasis Senioritas

Banyak organisasi masih menerapkan promosi berbasis masa kerja atau kedekatan relasional, bukan berbasis kompetensi dan nilai jabatan. Lama kelamaan, hal ini menciptakan struktur jabatan yang melebar secara horizontal dan vertikal tanpa justifikasi bisnis yang jelas.

Konsekuensinya:
  • Lapisan jabatan menjadi terlalu banyak (overlayered).
  • Beban biaya gaji meningkat tanpa peningkatan produktivitas yang sepadan.
  • Karyawan kompeten kehilangan peluang karier karena tidak “cukup senior”.
  • Motivasi menurun akibat persepsi ketidakadilan struktural.
  • Perusahaan kesulitan menentukan salary band yang proporsional.

Job Grading and Ranking menyediakan kerangka evaluasi yang objektif untuk menentukan kelayakan promosi berdasarkan job value. Evaluasi grading dapat menilai apakah suatu jabatan benar-benar memiliki bobot yang lebih tinggi dibanding level sebelumnya.

Dengan struktur berbasis nilai jabatan, perusahaan dapat:

  • Mendorong promosi berbasis kapabilitas dan kontribusi.
  • Menata ulang level jabatan agar lebih ramping dan efisien.
  • Menyesuaikan salary structure secara lebih objektif.
  • Memperkuat career mobility vertikal maupun lateral.
Regulasi pendukung:

3. Ketidakkonsistenan dalam Penetapan Salary Grade dan Kompensasi

Ketidakkonsistenan antara nilai jabatan dan struktur kompensasi merupakan sumber utama ketidakadilan dan potensi konflik hubungan kerja. Dalam banyak kasus:

  • Jabatan dengan grade rendah menerima kompensasi lebih tinggi dari jabatan dengan grade lebih tinggi.
  • Penyesuaian kompensasi tidak pernah ditinjau secara menyeluruh.
  • Negosiasi individual tidak terstandarisasi dan menciptakan disparitas.
  • Dokumentasi job value tidak tersedia atau tidak diperbarui.
  • Benchmark industri tidak diupdate, sehingga struktur ketinggalan pasar.
Dampaknya:
  • Retensi talenta melemah.
  • Ekspektasi kompensasi menjadi liar dan sulit dikelola.
  • Salary band tidak mencerminkan struktur organisasi.
  • Biaya SDM meningkat tanpa arah strategis yang jelas.
  • Risiko konflik hubungan industrial meningkat.

Dengan menerapkan Job Grading and Ranking, perusahaan dapat:

  • Menetapkan salary grade berbasis job value, bukan individu.
  • Mengintegrasikan struktur kompensasi dengan struktur jabatan.
  • Mengurangi bias subjektif dalam negosiasi gaji.
  • Menghadirkan fairness yang terukur untuk semua fungsi.
  • Menyusun salary band yang kompetitif dan sehat.
Regulasi relevan:

4. Struktur Organisasi yang Tidak Proporsional dan Tidak Mencerminkan Nilai Bisnis

Ketidaktepatan lainnya adalah struktur organisasi yang tidak mencerminkan nilai bisnis atau kontribusi strategis masing-masing unit kerja. Beberapa jabatan tampak penting secara title tetapi kontribusinya kecil terhadap value chain. Sebaliknya, jabatan krusial misalnya fungsi digital, supply chain, risk management atau data analytics, sering kali tidak mendapatkan grade setara dengan dampaknya.

Risiko yang muncul:
  • Struktur biaya SDM tidak proporsional karena alokasi kompensasi tidak mengikuti kontribusi nyata.
  • Unit dengan dampak tinggi kekurangan kapasitas karena grade terlalu rendah untuk menarik talenta berkualitas.
  • Penentuan prioritas organisasi menjadi bias, tidak selaras arah strategis.
  • Talent pipeline untuk fungsi kritikal tidak terbentuk dengan baik.

Melalui Job Grading and Ranking, organisasi dapat memetakan kontribusi setiap jabatan terhadap tujuan strategis, baik dari sisi:

  • Fungsi operasional,
  • Fungsi strategis,
  • Fungsi pendukung,
  • Maupun fungsi masa depan yang sedang berkembang (misalnya digital & analytics).

Pendekatan ini sangat relevan, di mana transformasi digital dan ekspansi pasar berjalan cepat tetapi struktur internal sering tertinggal dari arah bisnis.

5. Ketidakselarasan Antara Job Title, Job Content dan Job Value

Tidak sedikit perusahaan yang memiliki job title tinggi tetapi isi pekerjaannya tidak mencerminkan level tersebut. Contoh umum:

  • Manager” tanpa bawahan dan tanpa ruang pengambilan keputusan.
  • Supervisor” yang sebenarnya menjalankan pekerjaan teknis harian.
  • Officer” yang menangani keputusan strategis karena kurangnya peran menengah.
Ketidaktepatan ini biasanya terjadi karena:
  • Tidak ada pembaruan deskripsi jabatan.
  • Ekspansi organisasi dilakukan secara spontan.
  • Perubahan proses bisnis tidak diikuti pembaruan job title.
  • Title diberikan untuk tujuan retensi atau negosiasi kompensasi.
Konsekuensinya:
  • Grade tidak merefleksikan nilai pekerjaan.
  • Kompetensi tidak selaras dengan ekspektasi jabatan.
  • Penyusunan salary band menjadi sulit.
  • Kesempatan promosi menjadi bias.
  • Karyawan mengalami role ambiguity (ketidakjelasan peran).
Melalui Job Grading and Ranking, perusahaan dapat:
  • Menyelaraskan job title dengan job content.
  • Memastikan job value konsisten lintas fungsi dan unit.
  • Mengembalikan struktur organisasi ke kerangka yang lebih terstandarisasi.
  • Memperjelas ruang lingkup keputusan pada setiap level jabatan.

Hal ini sangat penting bagi perusahaan yang sedang melakukan scaling, restrukturisasi atau transformasi model bisnis.

6. Perbedaan Grade yang Terlalu Jauh atau Terlalu Dekat Antarjabatan

Ketidaktepatan berikutnya terkait dengan grade compression dan grade inflation. Keduanya sama-sama berbahaya:

Grade Compression (grade terlalu berhimpitan)

Terjadi ketika jabatan dengan tingkat tanggung jawab berbeda jauh ditempatkan pada grade yang sama.

Dampaknya:

  • Tidak ada ruang perkembangan karier yang jelas.
  • Karyawan tidak melihat jenjang peningkatan yang berarti.
  • Kenaikan tanggung jawab tidak tercermin dalam kompensasi.
  • Talent flow menjadi kabur dan sulit dikelola.

Grade Inflation (grade terlalu banyak dan tidak proporsional)

Terjadi ketika perusahaan memiliki terlalu banyak grade untuk jabatan yang sebenarnya memiliki nilai mirip.

Dampaknya:

  • Struktur menjadi berat dan birokratis.
  • Promosi cenderung seremonial, bukan peningkatan job value.
  • Pengambilan keputusan melambat karena terlalu banyak level.
  • Organisasi kehilangan agility.

Dengan Job Grading and Ranking, perusahaan dapat menata ulang jumlah grade agar tetap proporsional dan selaras dengan arah bisnis. Pendekatan ini juga membantu menyusun career banding yang jelas, terukur dan kompetitif di pasar tenaga kerja.

7. Ketidakadilan Internal (Internal Equity) dan Kesenjangan Eksternal (External Competitiveness)

Perusahaan harus mampu menjaga keseimbangan antara keadilan internal dan daya saing eksternal. Ketika struktur grading tidak akurat, dua risiko besar muncul:

Internal Equity Risk

Karyawan melihat ketidakkonsistenan kompensasi, grade atau job title antarjabatan dengan nilai serupa.

Dampaknya:

  • Engagement
  • Kecenderungan resign meningkat pada talenta utama.
  • Konflik antarunit dan ketidakpercayaan terhadap manajemen.

External Competitiveness Risk

Grade terlalu rendah atau tidak kompetitif membuat perusahaan:

  • Sulit menarik talenta baru.
  • Kehilangan talenta kritikal ke kompetitor.
  • Tertinggal dalam perang talenta, khususnya di sektor digital, finansial dan manufaktur.

Dengan Job Grading and Ranking, perusahaan dapat:

  • Mengukur job value secara internal.
  • Membandingkannya dengan referensi eksternal (benchmark industri, salary survey).
  • Menyusun struktur kompensasi yang adil di dalam dan kompetitif di luar.

Regulasi relevan:

Manfaat Strategis Penerapan Job Grading and Ranking

Setelah memahami berbagai ketidaktepatan struktural di atas, semakin jelas bahwa Job Grading and Ranking merupakan pondasi strategis bagi organisasi modern dengan manfaat antara lain:

No. Manfaat Keterangan
1

Keadilan Internal yang Terukur

Struktur nilai jabatan yang objektif memastikan kompensasi adil, perbandingan jabatan masuk akal dan pengembangan karier menjadi lebih transparan. Internal equity menjadi motor engagement jangka panjang.

2

Kerangka Karier yang Lebih Jelas

Job Grading and Ranking membantu membentuk:

  • Career path
  • Career path horizontal (lateral mobility).
  • Talent pipeline dan succession planning.

Talenta terbaik dapat melihat masa depan yang jelas di dalam organisasi.

3

Konsistensi antara Job Value dan Salary Structure

Grading mempermudah penyusunan:

  • Salary range dan salary band.
  • Skema kompensasi berbasis kinerja.
  • Penyesuaian gaji tahunan secara objektif.
4

Optimasi Struktur Organisasi

Dengan grading, perusahaan dapat merampingkan struktur, menyesuaikan level jabatan, meminimalkan duplikasi dan menyelaraskan peran dengan arah transformasi digital.

5

Penguatan Manajemen Risiko dan Kepatuhan

Grading yang akurat mendukung audit internal, kepatuhan hubungan kerja, penetapan jabatan kritikal dan mitigasi konflik industrial, penting bagi sektor finansial, energi, manufaktur dan sektor publik.

6

Daya Saing di Pasar Tenaga Kerja

Struktur yang jelas dan adil membantu perusahaan menarik, mempertahankan dan mengembangkan talenta di pasar tenaga kerja yang kompetitif.

Mengapa Job Grading and Ranking Menjadi Penentu Arsitektur Organisasi Masa Depan

Ketika struktur organisasi berada di bawah tekanan kompetisi, digitalisasi dan efisiensi, perusahaan membutuhkan sistem evaluasi jabatan yang mampu menjadi kompas strategis.

Job Grading and Ranking tidak hanya mengatur level jabatan tetapi juga:

  • Mempengaruhi arah pergerakan talenta.
  • Mempengaruhi efektivitas eksekusi strategi.
  • Menentukan kemampuan organisasi untuk bertahan dan berkembang.

Organisasi yang mempertahankan struktur lama tanpa evaluasi ulang cenderung menghadapi:

  • Biaya SDM yang membengkak.
  • Kinerja yang stagnan karena peran tidak jelas.
  • Kesulitan memenangkan talenta terbaik.

Sebaliknya, organisasi yang disiplin dalam menerapkan Job Grading and Ranking cenderung:

  • Lebih fleksibel dalam mengeksekusi strategi.
  • Lebih kuat dalam mempertahankan talenta kunci.
  • Lebih efektif mengendalikan struktur biaya SDM.

Pilar Implementasi Lanjutan Job Grading and Ranking untuk Organisasi Modern

Agar sistem grading benar-benar berdampak, perusahaan perlu membangun empat pilar implementasi lanjutan berikut.

No. Pilar Implementasi Keterangan
1

Konsistensi Pembaruan Dokumentasi Jabatan

Dokumentasi jabatan merupakan jantung Job Grading and Ranking. Banyak perusahaan memiliki dokumentasi yang stagnan selama bertahun-tahun, padahal bisnis dan kompetensi telah berubah drastis.

Dokumentasi yang perlu diperbarui secara berkala mencakup:

  • Job description.
  • Key Responsibility Area (KRA).
  • Standar kompetensi.
  • Indikator keberhasilan (success indicators).

Ketika dokumen ini terpelihara dengan baik, evaluasi jabatan menjadi akurat dan keputusan strategis dapat diambil dengan presisi.

2

Integrasi dengan Transformasi Digital dan Evolusi Kompetensi

Setiap industri bergerak menuju digitalisasi tetapi banyak organisasi belum memasukkan perubahan ini ke dalam struktur jabatan. Jabatan seperti:

  • Data analyst,
  • UI/UX specialist,
  • Cyber security officer,
  • Digital product manager,
  • Automation engineer,

telah menjadi peran strategis yang tidak bisa disetarakan dengan jabatan administratif konvensional.

Job Grading and Ranking membantu perusahaan:

  • Memahami nilai peran digital secara objektif.
  • Menyesuaikan level jabatan sesuai kebutuhan masa depan.
  • Menutup gap kompetensi yang melebar.
  • Menciptakan talent roadmap untuk fungsi digital.
3

Penyesuaian Berbasis Benchmark Industri

Struktur jabatan tidak bisa disusun hanya dengan perspektif internal. Perusahaan perlu memantau bagaimana industri menilai jabatan tertentu, apakah struktur masih kompetitif dan apakah job value internal sudah sejalan dengan pasar.

Benchmarking memungkinkan perusahaan untuk:

  • Menilai daya saing struktural.
  • Menyeimbangkan kompensasi.
  • Mengantisipasi pergeseran tren jabatan.
  • Menjaga tingkat turnover di level yang sehat.
4

Penguatan Workforce Governance melalui People Analytics

People analytics memungkinkan perusahaan mengukur kualitas struktur secara real-time. Data dapat menunjukkan:

  • Grade yang terlalu rendah atau tinggi dibanding kontribusinya.
  • Kesesuaian kompensasi dengan job value.
  • Konsentrasi turnover pada grade tertentu.
  • Kesiapan talenta untuk mendukung transformasi organisasi.

Ketika analytics digunakan secara konsisten, Job Grading and Ranking tidak berhenti sebagai proyek “sekali jadi” tetapi berkembang menjadi sistem tata kelola talenta yang berkelanjutan dan adaptif.

Mengapa Job Grading and Ranking Semakin Relevan bagi Organisasi Modern

Beberapa dinamika regional memperkuat urgensi Job Grading and Ranking:

  1. Pertumbuhan Organisasi yang Sangat Cepat: Perusahaan tumbuh organik tanpa pembaruan struktur yang memadai sehingga job title, peran dan kompensasi sering tidak akurat.
  2. Ledakan Permintaan Talenta Digital: Struktur lama tidak mampu mengakomodasi nilai peran digital yang sangat dipengaruhi teknologi. Tanpa Job Grading and Ranking, perusahaan tertinggal dalam perang talenta digital.
  3. Tuntutan Kepatuhan dan Transparansi yang Meningkat: Regulator semakin menekankan kejelasan jabatan, proporsionalitas beban kerja dan kelayakan kompensasi. Regulasi relevan antara lain:
  1. Ekspektasi Generasi Talenta Baru (Y & Z): Generasi baru menuntut: kejelasan jalur karier, struktur jabatan yang fair, mobilitas yang transparan, dan kompensasi yang relevan. Job Grading and Ranking menyediakan kerangka untuk menjawab seluruh ekspektasi tersebut secara sistematis.

Konsekuensi Mengabaikan Job Grading and Ranking

Organisasi yang tidak melakukan evaluasi jabatan secara rutin akan menghadapi risiko:

  • Biaya SDM meningkat tanpa korelasi dengan nilai kerja.
  • Kinerja tidak optimal karena peran dan akuntabilitas tidak jelas.
  • Konflik struktural lintas fungsi.
  • Talent loss pada jabatan kritikal.
  • Stagnasi inovasi karena talenta kunci tidak terkelola dengan baik.
  • Struktur tidak kompatibel dengan model bisnis dan teknologi baru.

Sebaliknya, organisasi yang disiplin menjalankan Job Grading and Ranking akan:

  • Lebih lincah menyesuaikan struktur dengan strategi.
  • Lebih kuat dalam mempertahankan dan mengembangkan talenta.
  • Lebih efektif mengelola struktur biaya SDM.
  • Lebih siap menghadapi audit, regulasi baru dan dinamika pasar.

Job Grading and Ranking sebagai Pilar Keadilan, Efisiensi dan Daya Saing

Job Grading and Ranking merupakan fondasi untuk membangun organisasi yang adil, efisien dan berdaya saing. Dengan sistem grading yang tepat, perusahaan mampu:

  • Menjaga keadilan internal melalui struktur jabatan dan kompensasi yang konsisten.
  • Mengoptimalkan biaya SDM dengan memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan selaras dengan nilai kontribusi jabatan.
  • Membangun jalur karier yang jelas sehingga retensi talenta dan engagement karyawan meningkat.
  • Menyusun struktur organisasi yang adaptif, siap beradaptasi dengan transformasi digital dan perubahan model bisnis.
  • Mengurangi risiko hubungan industrial dan kepatuhan, karena jabatan, beban kerja dan kompensasi terdokumentasi dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perusahaan yang menempatkan Job Grading and Ranking sebagai bagian dari strategic workforce architecture akan lebih siap menghadapi tantangan kompetisi jangka panjang, baik dari sisi talenta, biaya maupun struktur tata kelola SDM.

Ingin menggunakan jasa konsultan untuk penyusunan Job Grading & Ranking?

Silahkan kontak ke nomor +62 811-3547-717 atau tekan tombol logo WhatsApps untuk mengajukan layanan konsultan.

Peran KMMB HR: Mitra Implementasi Job Grading and Ranking yang Praktis dan Terukur

Di tengah kompleksitas penataan struktur jabatan, banyak perusahaan memiliki kebutuhan yang sangat praktis, bukan hanya “konsep” Job Grading and Ranking tetapi solusi yang bisa langsung diimplementasikan dan mudah dikelola ke depan. Di sinilah KMMB HR hadir sebagai mitra implementasi. Pendekatan kami berfokus pada tiga hal utama yaitu objektivitas, keterukuran, dan keberlanjutan.

Melalui layanan Job Grading and Ranking, KMMB HR membantu perusahaan:

No. Peran KMMB HR Keterangan
1

Melakukan assessment struktur jabatan yang sudah ada

  • Mengidentifikasi ketidaktepatan grade, job title dan job value.
  • Memetakan risiko ketidakadilan internal dan gap daya saing eksternal.
2

Menyusun framework Job Grading and Ranking yang sesuai karakter bisnis

  • Menentukan faktor penilai (job factors) yang relevan dengan industri dan strategi perusahaan.
  • Menyusun level/grade yang proporsional, tidak terlalu gemuk namun tetap memberi ruang pengembangan karier.
3

Mengintegrasikan Job Grading dengan struktur kompensasi dan career path

  • Menyusun rekomendasi salary band yang sejalan dengan job value.
  • Menghubungkan grading dengan jalur karier vertikal dan lateral mobility.
4

Menyediakan panduan, template, dan SOP yang dapat digunakan tim internal

  • Tools evaluasi jabatan yang dapat dioperasikan HR ke depan.
  • Panduan dokumentasi dan mekanisme review berkala agar sistem tetap relevan.
5

Mendampingi proses komunikasi dan implementasi di internal perusahaan

  • Menyusun narasi komunikasi agar perubahan struktur dapat diterima karyawan.
  • Mendukung manajemen dalam mengelola transisi tanpa mengganggu operasional.

Dengan pendekatan yang analitis, berbasis data dan kontekstual terhadap industri, KMMB HR membantu perusahaan untuk “memiliki dokumen Job Grading and Ranking” dan benar-benar dapat menggunakan sistem tersebut sebagai alat manajemen SDM sehari-hari.

Jika perusahaan Anda sedang:

  • Mengalami ketidakjelasan struktur jabatan,
  • Menghadapi isu keadilan kompensasi,
  • Merencanakan restrukturisasi organisasi,
  • Menyiapkan fondasi career path dan talent pipeline.

maka ini adalah momentum yang tepat untuk membangun sistem Job Grading and Ranking yang kuat dan berkelanjutan.

KMMB HR siap berdiskusi lebih lanjut untuk menyusun desain, metodologi dan rencana implementasi yang paling sesuai dengan kebutuhan organisasi Anda, mulai dari assessment awal hingga sistem siap digunakan sebagai bagian dari tata kelola SDM perusahaan.